Pesan Haedar Nashir dalam IMM Milad ke-58: Siap Menjadi Pemimpin Masa Depan



YOGYAKARTA – Diusia yang ke-58, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) semakin mengokohkan perannya sebagai kader yang berada di garda terdepan dalam membangun tradisi ilmu dan pemikiran yang terintegrasi dengan perspektif islam berkemajuan. Tidak hanya itu, IMM yang tersebar diberbagai perguruan tinggi akan menjadi calon-calon pemimpin bangsa di berbagai posisi, baik di dalam maupun di luar pemerintahan, termasuk sebagaimana yang telah banyak berdiaspora menjadi kader tingkat global.

Demikian disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si. dalam pegelaran Refleksi Milad ke-58 dan Peresmian Pusat Studi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Daerah Istimewah Yogyakarta yang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (DPD IMM DIY) pada Senin (14/3) secara luring dan daring.

Lebih jauh, melalui sambungan telekonferensi Haedar Nashir menghimbau para kader IMM untuk memahami kultur atau budaya mahasiswa yang haus ilmu, memiliki jangkauan pergaulan yang luas, serta menjadi calon pemimpin bangsa.

“IMM yang bergerak dalam komunitas mahasiswa tentu harus memahami kultur atau budaya mahasiswa dan komunitas mahasiswa sebagai generasi muda terpelajar yang haus ilmu memiliki radius pergaulan yang luas dan menjadi calon-calon pemimpin bangsa,” terang Haedar Nashir.

Tidak hanya itu, Haedar Nashir juga mengapresiasi berdirinya empat pusat studi IMM DIY. Menurutnya, dengan pusat studi tersebut, akan semakin membangun kultur studi islam, pemikiran keislaman, serta wawasan keislaman baik klasik maupun modern. Karena itu, Haedar Nashir berharap melalui keempat pusat studi tersebut, Islam dapat dikaji dengan pendekatan bayani, burhani, dan irfani.

“Melalu pusat studi Islam, akan semakin terstruktur kajian-kajian keislaman. Harapan saya agar dalam pusat kajian Islam ini, Islam benar-benar dikaji dengan pendekatan bayani, burhani dan irfani yang interkoneksi dan berwawasan luas. Jangan sampai ikatan mahasiswa Muhammadiyah ketinggalan kereta kemajuan dalam pemikiran keislaman apalagi kalau ada yang kembali ke masa lampau” Titah Haedar Nashir.

Keempat pusat studi yang baru saja diluncurkan IMM DPD DIY tersebut antara lain adalah Pusat Studi Anti Korupsi, merupakan pusat studi yang turut andil dalam upaya pemberantasan korupsi, serta sebagai wadah dalam mengkaji dan mengidentifikasi setiap persoalan korupsi di Indonesia; Pusat Studi Agama DPD IMM DIY sebagai wadah pengembangan dan pengkajian agama; Pusat Studi Sosial DPD IMM DIY yang fokus pada penyelesaian masalah kemanusiaan; serta lsmernissi perempuan berdikari merupakan pusat studi yang menjawab isu-isu tentang perempuan, serta sebagai persiapan bagi kader putri Muhammadiyah untuk organisasi otonom berikutnya.

Pusat studi IMM dibentuk didasarkan pada tiga alasan utama, yakni dorongan ideologis IMM, yakni manifesto dari cita-cita membentuk akademisi Islam, kedua, dalam bergerak, IMM memerlukan ilmu serta riset sebagai alas intelektual untuk kemudian membentuk gerakan, serta yang ketiga sebagai usaha transformasi kader.

Pada kesempatan tersebut, Haedar Nashir tidak lupa mengingatkan para kader putri Muhammadiyah atau yang dikenal dengan immawati untuk menjadi kader yang dinamis progresif, berwawasan maju, dan inklusif.

“Termasuk pesan khusus saya untuk kader-kader putrinya, jadilah kader-kader putri atau immawati yang dinamis progressif, berwawasan maju, dan inklusif, termasuk dalam cara berpakaian untuk tetap mengikuti apa yang menjadi model pakaian Muhammadiyah yang mencerminkan akhlak Islami tetapi berkemajuan, tidak kembali ke masa lampau karena ini merupakan satu bagian integral dari Islam yang bayani, burhani dan irfani dalam perspektif Islam berkemajuan,” imbuh Haedar Nashir.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Pusat Muhammadiyah bapak Dr. Untung Cahyono, M. Hum., yang hadir secara langsung di hadapan kader IMM berpesan agar para kader IMM tetap teguh untuk terus berada di Muhammadiyah.

“Saya satu saja mungkin yang ingin saya pesankan pada acara milad ini tentu kita, kami berharap anda semua yang hadir tetap komitmen mulai hari ini berada di Muhammadiyah. sehingga pada saatnya anda bukan lagi IMM. Mungkin suatu ketika selesai IMM ikut di pemuda yang laki-laki, yang perempuan ke nasiah dan terus berlanjut dua-duanya ke, syukur ke majelis dulu sehingga lebih mendalami berbagai hal di Muhammadiyah” Pesan Untung Cahyono.

Pada kegiatan tersebut, juga dilaksanakan dialog dan refleksi milad ke-58 IMM yang disampaikan oleh Prof. Dr. Muhammad Azhar, M.A, serta Bachtiar Dwi Kurniawan atau yang acap disapa Gus Bah.[danda/sm]

Sumber: Suara Muhammadiyah

Posting Komentar

0 Komentar