Anggun dalam Moral, Unggul dalam Intelektual



IMMPOS.COM - Kalimat di atas sering kita jumpai dalam jargon yang diungkapkan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Jargon ini diharapkan dapat menjadi nafas pergerakan, yang darinya menciptakan kader unggul dan berintegritas. Kader bermoral artinya mengedepankan kebijaksanaan dalam setiap tindakan yang diambilnya, memadukan antara akal dan hati.

Seorang yang anggun dalam moralnya tidak mungkin melakukan tindakan-tindakan tercela, apalagi tindakan yang dilarang oleh agama. Dengan moral itu pola ia akan terjaga dari perilaku menyimpang seperti korupsi, memeras atau mengunakan nama organisasi untuk kepentingan pribadi. Ia malu dengan segala perilaku yang menyalahi norma-norma sosial.

Lalu Golongan intelektual adalah kaum terpelajar yang setia pada ikrar untuk berjuang dengan menegakkan kebenaran dari apa yang ia yakini, sekaligus menjadi representasi masyarakat dalam mengawal berjalannya pemerintahan. Sehingga, seorang intelektual seharusnya mampu menjaga idealismenya untuk tetap menjadi “jembatan” penyambung suara rakyat. 

Antonio Gramsci mempunyai cara pandang lain tentang defenisi intelektual, ia berpandangan bahwa fungsi utama seorang intelektual sebetulnya ialah mengadakan gerak perubahan sosial. Untuk pemaknaan demikian itu, Gramci mengatakan: semua orang adalah intelektual, namun tidak semua orang memiliki fungsi intelektual. Dalam perkembangannya Gramsci mengagas apa yang ia sebut sebagai intelektual organik.

Bapak Reformasi kita, Amin Rais dengan bukunya Tauhid Sosial, juga ingin mengatakan kepada kita, bahwa keyakinan kita kepada Tuhan yang maha esa haruslah diaplikasikan pula dengan menjalankan perintah-perintahnya yang salah satunya adalah peduli terhadap keadaan Sosial masyarakat disekitar kita. Apalagi dengan pandemi yang belum berakhir ini, kiranya dapat dengan mudah kita dapati masyarakat yang mengalami kesulitan dalam hidup.

Sebagai seorang Intelektual, hendaknya kader IMM juga ikut andil dalam membangun peradaban Islam secara umum dan visi Muhammadiyah secara khusus. Maka seorang kader memiliki tanggungjawab moral untuk selalu mengajak orang lain berbuat baik dan mencegah kerusakan atau sering kita dengar dengan Amar makruf nahi mungkar. Karena hanya dengan amal makruf nahi mungkar tersebut akan terjadi Checks and balances dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat dan lingkungan sekitar.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Surah Al ‘Imran, 110)

Posting Komentar

0 Komentar