Menapak 2026, Merestorasi Sesal 2025
Table of Contents
Tahun 2025 akan dikenang bukan sekadar sebagai rentang waktu, bukan pula sekedar pergantian angka dalam kalender, melainkan medan penilaian sejarah. Tahun 2025 kini berdiri sebagai ruang ingatan kolektif tempat sesal berserakan, bukan karena bangsa ini kekurangan potensi, tetapi karena negara memilih berjalan menjauh dari nurani. Maka ketika bangsa ini melangkah menapak 2026, pertanyaannya bukan “apa yang akan dibangun?”, melainkan “apa yang telah dihancurkan, dan mengapa kita abai?”
Istilah restorasi sering digaungkan pemerintah sebagai jargon pemulihan ekonomi, pembangunan, stabilitas. Namun apa arti restorasi jika yang dipulihkan hanya kepentingan modal, sementara yang dikorbankan adalah hutan, tanah adat, pesisir, dan ruang hidup masyarakat? Maka 2026 seharusnya bukan sekadar transisi waktu, tetapi momentum restorasi sesal kesadaran kolektif atas kegagalan moral dan politik negara sepanjang 2025.
Negara Tanpa Tauhid: Kekuasaan yang Kehilangan Arah
Ketika kebijakan negara disusun semata atas dasar pertumbuhan ekonomi dan kepentingan investasi, maka sesungguhnya negara sedang mengganti pusat nilai: dari keadilan menuju keuntungan, dari kemaslahatan menuju akumulasi modal. Dalam perspektif tauhid, ini adalah bentuk syirik struktural ketika kekuasaan dan kapital ditempatkan lebih tinggi daripada nilai kemanusiaan dan amanah keadilan sosial.
Sepanjang 2025, kita menyaksikan lahirnya regulasi yang minim partisipasi, represifitas terhadap kritik, dan abai terhadap penderitaan rakyat. Negara tidak lagi hadir sebagai pelayan kehidupan, melainkan sebagai penjaga kepentingan segelintir elite. Inilah tanda kekuasaan yang tercerabut dari nilai ilahiah dan etika profetik.
Kerusakan Alam: Pengkhianatan Amanah Kekhalifahan
Kerusakan lingkungan bukanlah kecelakaan, melainkan konsekuensi dari pilihan politik. Alam bukan objek eksploitatif, melainkan ayat-ayat kauniyah Tuhan yang hidup. Kerusakan ekologis yang masif sepanjang 2025, banjir, krisis air, konflik agraria adalah tanda pengkhianatan terhadap amanah kekhalifahan. Alam diperlakukan sebagai komoditas, bukan amanah. Padahal di dalam tanah yang dikeruk, hutan yang dibabat, dan laut yang tercemar, tersimpan hak hidup rakyat kecil. Ketika negara lebih berpihak pada pemilik modal ketimbang penjaga alam, maka yang runtuh bukan hanya ekosistem, tetapi legitimasi kekuasaan itu sendiri.
Gerakan Tajdid, Teologi Al-Ma’un untuk Nurani Zaman
Selanjutnya, IMM ditantang untuk melakukan tajdid, pembaruan cara berpikir dan bergerak. Kritik tidak boleh berhenti pada retorika, tetapi harus menjadi praksis perubahan. IMM harus hadir sebagai gerakan intelektual yang membongkar struktur ketidakadilan, sekaligus gerakan moral yang menawarkan arah baru pembangunan berkeadilan ekologis dan sosial.
Tajdid IMM adalah menyatukan tauhid dan realitas, ilmu dan keberpihakan, kampus dan rakyat. Gerakan mahasiswa tidak boleh tercerabut dari penderitaan konkret masyarakat, sebab di sanalah nilai keislaman diuji dan dimaknai. Dalam Teologi Al-Ma’un mengajarkan bahwa iman harus hadir dalam keberpihakan nyata kepada kaum mustadh’afin. Negara yang membiarkan rakyat kehilangan ruang hidup, petani kehilangan tanah, dan masyarakat adat kehilangan identitasnya adalah negara yang mempraktikkan agama tanpa ruh sosial.
IMM, sebagai gerakan mahasiswa Islam, tidak boleh netral dalam situasi ketidakadilan. Netralitas dalam ketimpangan adalah keberpihakan terselubung kepada penindas. Maka kritik terhadap kebijakan kontroversial dan perusakan alam bukan sekadar sikap politik, melainkan konsekuensi iman dan panggilan ideologis.
Menuju 2026: Dari Sesal ke Kesadaran Kolektif
Jika 2025 adalah tahun sesal, maka 2026 harus menjadi tahun kesadaran. Restorasi yang sejati bukanlah proyek pencitraan negara, melainkan gerak kesadaran kolektif untuk kembali pada nilai keadilan ilahiah. Sesal 2025 harus diolah menjadi energi perlawanan yang tercerahkan. perlawanan yang berakar pada tauhid, berorientasi pada kemaslahatan, dan berpihak pada kehidupan.
IMM memikul tanggung jawab sejarah untuk menjadi penjaga nurani bangsa. Ketika negara lupa pada amanahnya, IMM harus mengingatkan. Ketika kekuasaan menyimpang, IMM harus meluruskan. Karena dalam ideologi gerakan, diam bukan pilihan, dan keberpihakan adalah keniscayaan.
Menapak 2026, IMM tidak sekadar melangkah dalam waktu, tetapi bergerak dalam kesadaran. Dari tauhid lahir kekuatan. Dari Al-Ma’un tumbuh keberpihakan. Dan dari tajdid, perubahan itu dimulai.
Oleh: Mail
(Aktivis IMM Kota Makassar)
Posting Komentar