KH Ibrahim : Sang Penerus Estafet Kepemimpinan KH Ahmad Dahlan




IMMPOS.COM - Ketika dalam keadaan sakit, KHA Dahlan berpesan kepada KH Ibrahim agar ia berkenan mengantikannya memimpin Muhammadiyah. Namun, saat itu beliau menolak karena merasa tidak mampu memimpin organisasi dan pergerakan Islam yang telah besar itu. Setelah KHA Dahlan pulang ke Rahmatullah, diadakanlah Kongres Muhammadiyah ke-14 di Yogyakarta bulan Maret tahun 1923, dengan suara bulat para peserta memilih KH Ibrahim untuk melanjutkan kepemimpinan KHA Dahlan menjadi Voorzitter Hoofdbestuur (Ketua Pimpinan Pusat) Muhammadiyah Hindia Timur, demikian penyebutan Indonesia pada masa itu. Maka mau tidak mau KH Ibrahim harus mengambil tongkat kepemimpinan Persyarikatan itu.

Kiyai Haji Ibrahim adalah adik Nyai Siti Walidah atau Nyai Haji Ahmad Dahlan. Dengan demikian K.H. Ibrahim adalah adik ipar KHA Dahlan. Putra asli Kauman Yogyakarta kelahiran tanggal 7 Mei 1874 ini adalah putra Kh. Fadhil Rachmaningrat, seorang Penghulu Hakim Nagari Kasultanan Yogyakarta pada masa pemerintahan sultan Hamengkubuwono ke VII.

Disaat kanak-kanak, beliau mendapatkan Pendidikan agama langsung dari orang tuanya sendiri, selain itu dibimbing juga oleh kakaknya yang tertua yakni KH M. Nur. Pada umur 17 tahun, Ibrahim pergi menunaikan ibadah haji dan dilanjutkan dengan menetap di Mekah selama 7-8 tahun untuk menuntut ilmu agama. Pada tahun 1902, beliau pulang ke Tanah Air karena ayahnya sudah lanjut usia. Kedatangan Ibrahim di Tanah Air mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.

Kiyai yang suka pakai jubah panjang dan sorban itu dikenal sebagai ulama besar, cerdas, dalam ilmunya, hafal (hafidz) Al-Quran, qiraatnya bagus, dan pandai berbahasa Arab. Maka tak heran banyak umat Islam yang berduyun-duyun untuk mengaji kepadanya. KH Ibrahim menguasai ilmu-ilmu agama dari pendidikan pondok pesantren. Beliau adalah seorang ulama yang ‘alim, sederhana dalan hidupnya dan bertanggung jawab terhadap amanah yang diserahkan kepadanya.

Dalam kepemimpinan beliau, Muhammadiyah mengembangkan sayapnya ke berbagai daerah. Kongres Tahunan (sekarang Muktamar), Muhammadiyah diselenggarakan bergantian di berbagai kota. Seperti, Kongres ke-15 diselenggarakan di Surabaya, Kongres ke-16 di Pekalongan, Kongres ke-17 di Solo, Kongres ke-18 di Yogyakarta, Kongres ke-19 di Bukittinggi, Kongres ke-20 digelar di Yogyakarta, Kongres ke-21 di Makasar, dan Kongres ke-22 di Semarang.

Kyai Ibrahim memiliki perhatian yang sangat besar terhadap angkatan muda dan perempuan. Beliau turun tangan langsung dalam memberikan bimbingan dan pengawasan terhadap Aisyiyah dan Hizbul Wathan, organisasi pemuda Muhammadiyah masa itu. Selain itu, Kiyai Ibrahim memimpin sebuah kelompok pengajian yang diberi nama Adz-Dzakirat. Melalui Adz-Dzakirat pula, upaya penggalian dana untuk aktivitas Aiysiyah, PKO, Bagian Tabligh dan Bagian Taman Pustaka biasa beliau lakukan.

Majelis Tarjih, bagian dari Muhammadiyah yang bertugas mengkaji masalah keagamaan, dibentuk pada masa kepemimpinan beliau ini. Keberadaan organisasi otonom Nasyiatul ‘Aisyiyah (untuk putri) dan Pemuda Muhammadiyah mulai dirintis dan dikembangkan. Pembentukan Majelis Tarjih itu dimaksudkan untuk mempersatukan umat Islam di seluruh penjuru dunia. Hal ini yang selalu menjadi pemikiran Kiyai Dahlan; umat Islam mesti bersatu untuk mempersatukan umat Islam, mesti dipersatukan terlebih dahulu pemikirannya tentang agama Islam, termasuk pemahaman yang benar tentang ajaran-ajaran agama Islam.

Perkembangan yang menonjol pada masa kepemimpinan KH Ibrahim antara lain adalah didirikannya Fonds Dachlan (1924), yakni lembaga yang bertujuan untuk mengumpulkan beasiswa bagi anak-anak orang miskin. Kiyai Ibrahim melakukan perbaikan badan perkawinan untuk menjodohkan putra-putri keluarga Muhammadiyah yang sudah masanya menikah; khitanan massal pernah diselenggarakan oleh Muhammadiyah pada tahun 1925. Penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah di Surabaya yang menghasilkan keputusan penting, antara lain penyelenggaraan shalat Iedul Adha dan Iedul Fithri di lapangan, penggunaan tahun Hijriyah dalam surat menyurat dan administrasi Muhammadiyah.

Sejak tahun 1928, putra-putri lulusan sekolah￾sekolah kader Muhammadiyah, seperti Madrasah Muallimin, Muallimat, Tabligh School dan Normaalschool, banyak dikirimkan ke berbagai pelosok tanah air untuk melaksanakan tugas dakwah Muhammadiyah. Para kader ini kemudian dikenal dengan istilah Anak Panak Muhammadiyah. Pada tahun 1929, dalam Kongres Muhammadiyah di Solo, Muhammadiyah mendirikan Uitgeefster My, yakni sebuah badan usaha penerbitan buku-buku di bawah wewenan Bagian Taman Pustaka.

Menjelang akhir masa kepemimpinan beliau, dalam Kongres Muhammadiyah ke -21 di Makassar tahun 1932, diputuskan agar Muhammadiyah menerbitkan dagblaad (surat kabar). Keputusan ini pelaksanaannya diserahkan kepada Cabang Muhammadiyah Solo yang kemudian berhasil menerbitkan dagblaad yang diberi nama “Adil”, (yang kemudian sangat dikenal adanya wartawan Muhammadiyah H. Soerono Wirohardjono).

KH Ibrahim wafat dalam usia relatif muda, 46 tahun. Beliau pulang ke Rahmatullah tanggal 13 Oktober 1932 setelah menderita sakit beberapa waktu. Dalam memimpin Muhammadiyah sekitar sepuluh tahun itu Muhammadiyah mengalami perkembangan yang pesat dan telah menyebar ke seluruh pelosok Tanah Air. 


Oleh : Naufal Abdul Afif
Sumber : 100 Tokok Muhammadiyah yang menginspirasi.

Posting Komentar

0 Komentar