Mengenal Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan)



IMMPOS.COM - Siti Walidah lahir di Kampung Kauman pada tahun 1872 M, putri dari H. Muhammad Fadhil bin Kiai Penghulu Haji Ibrahim, penghulu Kraton Yogyakarta. Ibunya dikenal dengan nama Nyai Mas dari Kauman juga. Siti Walidah adalah anak keempat dari tujuh bersaudara, yaitu Kiai Lurah Nur, Haji Ja’fat, Siti Munjiyah, Siti Walidah, Haji Dawud, Kiai Haji Ibrahim, dan Kiai Haji Zaini. Keluarga Siti Walidah juga dikenal sebagai pengusaha/pedagang.

Siti Walidah menikah dengan Muhammad Darwis (KH Ahmad Dahlan) pada tahun 1889 di usia 17 tahun. Pernikahan itu dikaruniai enam putra-putri, yaitu Djohanah (lahir 1890), Siradj Dahlan (1898-1948), Siti Busyro Islam (1903-1936), Siti Aisyah Hilal (1905-1968), Muhammad Djumhan/Erfan Dahlan (1907-1967) dan Siti Zuharoh Masykur (1908-1967). Setelah menikah dengan KHA Dahlan, Siti Walidah kemudian dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan.

Sebagaimana anak-anak perempuan di Kauman, Siti Walidah hanya mendapatkan ilmu agama tanpa mengenyam pendidikan formal. Sesuai keadaan masyarakat di kampung santri Kauman waktu itu, yang terkenal dengan kepatuhannya dalam menjalankan Agama Islam dan ketekunannya dalam beribadah, apalagi beliau adalah puteri seorang ulama, Kiyai Fadhil, yang disegani oleh masyarakat, lebih-lebih sebagai pejabat Penghulu Kraton Dalem Ngayogyakarta Hadiningrat.

Nyai Ahmad Dahlan pada waktu remajanya adalah puteri rumahan yang tidak bisa bebas dalam pergaulannya dan tidak belajar di sekolah. Tetapi sebagaimana telah disebutkan, beliau mendapatkan pendidikan sekadar mengaji Al-Qur’an dan belajar hal-hal pokok Agama terutama soal praktik ibadah, yang sudah dipandang memadai kala itu.

Kecakapan dan ketertarikan Siti Walidah terhadap ilmu agama sudah terlihat sejak muda, dia sangat aktif mengikuti pengajian yang diselenggarakan oleh ayahnya. Sebagai seorang anak perempuan yang lahir di kalangan santri, Siti Walidah selalu diberi pemahaman dari orang tuanya tentang hakekat seorang perempuan. Inilah yang menjadi landasan kuat dan warna gerakan ‘Aisyiyah, pemikiran dan gerakan kemajuan yang dikembangkannya tetap berpedoman pada kodrat perempuan sebagai istri dan ibu.

Dalam pernikahannya itu, Siti Walidah bisa menjadi partner berdakwah dalam perjuangan kemasyarakatan yang dijalaninya bersama suaminya. Beliau mengikuti segala yang diajarkan atau ditablighkan oleh suaminya, terutama yang dikhususkan bagi kaum wanita. Kemudian beliau mengikuti jejak-langkah KHA Dahlan dalam menggerakkan Muhammadiyah dan menambah ilmu pengalaman dan amal kebaikannya.

Nyai Ahmad Dahlan termasuk dalam kelompok perempuan pertama yang berjuang dalam pergerakan perempuan. Nyai Ahmad Dahlan tercatat dalam sejarah ketika mendirikan organisasi “Sopo Tresno” pada tahun 1914, sebuah pergerakan perempuan pertama di Indonesia yang dipimpin oleh Nyai Ahmad Dahlan, dibawah bimbingan Kyai Dahlan secara langsung.

Perjuangan Nyai Ahmad Dahlan dalam mengangkat harkat perempuan tidaklah mudah, karena beliau berhadapan dengan generasi tua yang masih memegang prinsip “wanita adalah konco wingking” (teman di ‘belakang’, di dalam rumah). Tentu saja hal ini banyak mendapat tantangan, namun Nyai Ahmad Dahlan tetap teguh dalam mengembangkan ‘Aisyiyah dan kaum perempuan.

Nyai Dahlan telah ikut menanam benih dan menjadi pelopor kaum wanita untuk meninggalkan keyakinan dan kebiasaan yang kolot dengan melakukan pergerakan untuk maju dan berjuang supaya tidak tertinggal dari kaum laki-laki. Besar pengorbanan beliau waktu itu, jika mengingat akan rintangan dan celaan dari pihak “kaum tua” yang menganggap bahwa sepak terjang beliau sebagai "melanggar kesusilaan dan keutamaan kaum wanita".

Kecerdasan pemikiran Nyai Ahmad Dahlan tidak lepas dari pergaulannya yang luas dengan tokoh-tokoh yang biasa bergaul dengan suaminya seperti; Jendral Sudirman, Bung Tomo, Bung Karno, K.H. Mas Mansyur, di mana beliau tidak pernah merasa rendah diri bahkan banyak memberikan nasehat-nasehat kepada mereka-mereka.

Hingga pada puncaknya nyai Ahmad Dahlan mencengangkan banyak orang yang menghadiri Kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya, kota Kebangsaan Indonesia pada tahun 1926 dengan dapat memimpin kongres itu. Sidang yang hanya untuk kaum wanita itu, bertempat di Gedung Bioskop Kranggan. Gedung itu dipenuhi wanita-wanita berkerudung putih. Di gedung pertemuan itu hanya ada beberapa kursi untuk pejabat Pemerintah dan pers di dekat mimbar.

Tanpa mengurangi makna pidato-pidato yang disampaikan oleh ibu-ibu dan gadis-gadis, perhatian sebagian hadirin tertuju kepada pimpinan sidang besar itu. Para wartawan sangat intens meliput peristiwa itu dan terbukti dengan pemuatan beritanya dalam publikasi mereka.


Posting Komentar

0 Komentar