Rahasia dan Makna Bulan Sya’ban





IMMPOS - Bulan Sya’ban adalah bulan ke-8 dalam kalender islam yang disebut kalender hijriah. Bulan ini adalah salah satu bulan yang diistimewakan oleh Nabi Muhammad SAW. Banyak keutamaan-keutamaan di bulan ini, salah satunya dalam bulan ini juga Nabi Muhammad SAW banyak melakukan puasa sunnah. Banyak dalil-dalil syar’i yang menerangkan demikian, seperti hadist dari Aisyah r.a :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ

Artinya : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156).

Sejarah Asal kata bulan Sya’ban

Di Channel Youtube Adi Hidayat Official, Ustadz Adi menjelaskan Rahasia dan Makna Bulan Sya’ban. Jadi pada saat zaman jahiliah atau pra islam, bulan ke-8 pada zaman itu masyarakat jahiliah membentuk kelompok-kelompok kecil untuk mencari sumber air di wilayah padang pasir dan menyiapkan wadah untuk menampung air tersebut untuk persiapan menyambut bulan ke-9 yang begitu terik dan panas membakar sehingga berpotensi menjadikan sumber-sumber air kering dan aktivitas-aktivitas pun menjadi terbatas.

Bulan ke-9 yang panas dan terik memancar inilah disebut Ramadhan, berasal dari kata رمض yang artinya terik, panas, dan membakar. Maka ketika diubah bentuknya menjadi superlative yang artinya lebih meningkat lagi, lebih membakar lagi, maka tambahkan alif (ا) dan nun (ن) diakhirnya, maka masyarakat menyebutnya ramadhan (رمضان) yang berrati bulan, masa atau waktu yang sangat panas, sangat terik, dan membakar. Maka dari itu sebulan sebelumnya masyarakat jahiliah berkelompok-kelompok membagi tugas.

Pengelompokkan yang menyebar dan membagi tugas ini disebut “tasya’ub” yang kemudian keadaannya ini lah yang di sebut “sya’ban”. Jadi bulan “sya’ban” atau bulan ke-8 ini adalah waktu dimana masyarakat jahiliah dulu membagi kelompok untuk bertugas mencari sumber-sumber air kemudian ditampung untuk persiapan bulan ke-9 yaitu bulan Ramadhan. 

Bulan persiapan untuk Ramadhan

Di masa islam, nama-nama bulan dipertahankan dalam perjalanan di tahun hijriyah dari Muharram hingga Dzulhijjah. Pada bulan Sya’ban sampai Ramadhan, ada pergantian atau pelebaran makna, yang sebelumnya bermakna sangat terik, panas, atau yang berhubungan dengan suasana, iklim, dan cuaca. Maka secara metafor makna tersebut dibawa dalam nilai syariah dan pendidikan spiritual. Ustadz Adi Hidayat mengatakan “Di bulan Ramadhan, orang-orang yang ingin meningkatkan amalnya, membangun ketaatan, meninggalkan maksiat, bertobat kepada Allah Swt. maka ramadhan akan memberikan panas, terik, membakar dosa-dosanya, menggugurkan kesalahan-kesalahannya, mendekatkan diri kepada Allah dengan taqarrub yang sangat indah sehingga berpeluang diterimanya amal, dan diberikan kemuliaan, dan mungkin juga berpotensi wafat dalam keadaan husnul khatimah.” 

Maka dari itu, memang butuh persiapan sebelum bulan ramadhan datang. Jika di zaman jahiliah sebelum islam datang orang-orang mengumpulkan air untuk persiapan bulan yang cuacanya sangat panas. Maka, di saat ini sudah sepatutnya kita siapkan menuju ramadhan adalah ‘air-air spiritual’ yang tidak hanya melapangkan dahaga kita, tetapi juga bisa menyuburkan hati-hati yang kering, membakar semua kesalahan-kesalahan dan menumbuhkan nilai-nilai ketaatan dengan harapan hal ini menjadi kebiasaan di bulan Ramadhan nanti. Ustadz Adi Hidayat mengingatkan kita bahwa tidak muda untuk menjalani ramadhan “karena itu, mari manfaatkan bulan sya’ban ini yang telah masuk kita diawalnya untuk mengumpulkan banyak air spiritual, berlatih ibadah, meningkatkan ketaatan, sehingga nanti mampu terbiasa saat masuk bulan Ramadhan.” 

Bulan Sya’ban sebagai momentum amal shaleh

Keberadaan bulan Sya’ban yang diapit oleh bulan Rajab dan bulan Ramadhan menjadikan banyak orang menyepelekan dan melalaikannya. Hal ini telah disinggung Nabi SAW dalam haditsnya :

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَان

Artinya : “Itu adalah bulan yang banyak manusia melalaikannya, terletak antara bulan Rajab dan Ramadhan” (HR An-Nasai no. 2357, dihasankan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasai). 
 
Itu artinya, bulan Sya’ban banyak ujian dan cobaannya, sehingga seseorang akan lulus dalam ujian manakala memanfaatkannya dengan memperbanyak amal shalih di bulan Sya’ban. Dan hanya manusia-manusia istimewa yang diberi taufiq Allah yang mampu mengisi bulan ini dengan beragam amal ibadah.
 
Maka dari itu, sudah sepatutnya bulan sya’ban ini menjadi momentum yang tepat untuk memperbanyak amalan shalih guna meningkatkan ketakwaan agar menjadi kebiasaan jika bulan Ramadhan telah tiba. 


Oleh : Najihus Salam
(Kader IMM Pondok Hajjah Nuriyah Shabran dan Mahasiswa IQT UMS)

Posting Komentar

0 Komentar