Tawakal : Jangan Lari Dari Takdir, Jika Ikhtiar Belum Sempurna



IMMPOS.COM - Khalifah Umar bin Khattab ra. pernah melakukan perjalanan ke negeri Syam. Sesampainya di kampung Jabiyah, beliau mendapatkan informasi jika di Syam sedang dilanda penyakit Tha'un. Wabah menular ini telah menewaskan ribuan orang.

Terjadi perbedaan pendapat di antara sahabat yang ikut dalam rombonga tersebut. Perbedaan tajam yang saling menegasikan. Sebagian meminta perjalan ditunda untuk menghindari bahaya tertular, dan setengahnya tetap bersikukuh melanjutkan perjalanan, karena hidup dan mati, sehat dan sakit semuanya berada di bawah kekuasaan Allah, maka bertawakkal saja atas segala takdir-Nya.

Setelah terjadi diskusi dan tukar pikiran, Khalifah Umar pun mengambil keputusan, "Kita kembali. Tidak usah melanjutkan perjalanan."

Keputusan Umar dipertanyakan oleh sahabat Abu Ubaidah (yang pro melanjutkan perjalanan), "Apakah boleh kita lari dari takdir Allah?"

"Kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah yang lain," Jawab Umar. 

Tawakkal harus dipahami dengan konsep yang benar. Jika tawakkal diartikan sebagai sikap menyerahkan kekuasaan segala perkara, ikhtiar dan usaha kepada Tuhan semesta alam, maka meletakkan perilaku tawakkal juga harus berkesesuaian. Tidak salah kaprah.

Nabi pernah menegur seseorang yang tidak menambatkan (mengikat) untunya lalu beralasan telah bertawakal kepada Allah. "Ikatlah dahulu untamu lalu bertawakal!"

Sikap tawakal yang benar telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW saat hendak meninggal Makkah menuju Madinah (hijrah). Nabi dan sahabat tercinta tidak langsung menuju Madinah. Mereka berdua memutar arah dan bersembunyi di dalam gua di atas Jabal Tsur. Tempat yang paling aman, jauh dari jangkauan manusia dan strategis untuk mengecoh musuh. Setelah memastikan aman dan memaksimalkan usaha, beliau kemudian berkata kepada Abu Bakar, "Jangan takut, Allah bersama kita."

Kapan Rasulullah bertawakal? Setelah menyempurnakan ikhtiar (usaha). Padahal bagi Allah, tidak ada yang sulit untuk menyelamatkan nabi-Nya. Tidak perlu sembunyi-sembunyi, dikejar-kejar, diancam dan sebagainya. Kun fayakun.

Jika Anda tidur di bawah pohon durian yang lebat buahnya, atau duduk di tepian sungai yang sedang banjir atau bermain di bawah tebing yang mudah longsor, lalu Anda pasrahkan diri kepada-Nya, itu bukan tawakal. Itu nekat alias konyol.

Jika ada yang berusaha bekerja agar terhindar dari kemiskinan, mengunci pintu rumah sebelum keluar, memasukkan ternak di kandang menjelang malam, mengatur pola hidup agar sehat dan berobat agar sembuh, itu adalah bentuk tawakal yang benar secara teori dan praktek.

Tentu dengan keyakinan bahwa bukanlah kunci yang menyelamatkan ternak dari pencuri, bukan obat yang menyembuhkan penyakit, bukan pekerjaan yang membuat kaya. Ini adalah semata-mata ikhtiar dengan hati yang ikhlas dan tulus pada-Nya. 

Ada seorang sahabat yang bertanya kepada kepada Rasulullah, "Apakah menangkal penyakit, berobat, dan menjaga kesehatan dapat menolak takdir yang telah ditentukan oleh Allah?" Nabi kemudian menjawab, "Berobat itu pun takdir-Nya juga." 

Oleh: Ustadz Syahrul M.Si
(Alumni PUTM Yogyakarta, Mahasiswa S3 Pendidikan Agama Islam Universitas Ibn Khaldun, Bogor)

Posting Komentar

0 Komentar