Darul Arqam Dasar PK IMM STITM Paciran Lamongan dengan Srategi Pendampingan Berbasis Platform Digital



Lamongan - Perkaderan ikatan adalah suatu proses pembelajaran dan pelatihan yang dilakukan oleh Kader dalam kehidupan ikatan ataupun ketika sudah berada diluar struktur ikatan. Sistem perkaderan ikatan secara filosofis dapat diartikan sebagai penerjemahan dalam proses perkaderan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam beliau mempraktekkan sistem perkaderan kepada para pengikutnya. Hal tersebut dapat dilihat dari nama perkaderan yaitu Darul Arqam. Darul Arqom sendiri memiliki sejarah bahwa nama dari Darul Arqam merupakan nama tempat sahabat Nabi yakni Arqam Ibn Abil Arqam. Dalam perkaderan tesebut melahirkan generasi awal Islam seperti, Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, Siti Khadijah, Sa'ad bin Abi Waqas dan yang lainnya. Filosofis perkaderan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, yaitu penanaman nilai-nilai Islami secara kaffah, dengan cara mengubah kesadaran jahiliyyah sehingga menjadi kesadaran Al syakhsiyah Faal Fadli (Hablum minallah dan Hablum minannas).

Sebagai salah satu bagian dari gerakan kader dalam Muhammadiyah, orientasi perkaderan IMM diarahkan pada proses terbentuknya kader yang siap berkembang sesuai dengan spesifikasi profesi yang ditekuni. Kualitas kader harus selalu dibentuk dan diupgrade sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Secara substansial, arah perkaderan IMM adalah menciptakan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas akademik yang memadai sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan zaman, yang berakhlakul kharimah dengan proyeksi sikap individual yang mandiri, bertanggung jawab dan memiliki komitmen serta kompetisi dalam memperjuangkan dakwah amar ma'ruf nahi munkar. Adapun falsafah perkaderan IMM yaitu mengembangkan nilai-nilai uswah, pedadogis-kritis, dan hikmah untuk mewujudkan gerakan IMM sesuai dengan falsafahnya yakni organisasi IMM sebagai gerakan intelektual. Dalam tahapan yang lebih praktis, akumulasi proses perkaderan diarahkan dalam rangka regenerasi kepemimpinan IMM dalam setiap level kepemimpinan. Hal tersebut merupakan arah sekaligus tujuan perkaderan IMM, yang sangat penting untuk difahami oleh seluruh kader, pimpinan khususnya para instruktur yang merupakan penanggung jawab dalam mengelola perkaderan baik ditingkat awal sampai akhir. Untuk mewujudkan hal tersebut, tentu saja yang dibutuhkan bukan hanya sekedar stamina dan kesabaran dalam dosis yang tinggi untuk mengarunginya. Lebih daripada itu dibutuhkan orang-orang yang cakap, profesional, visioner, kreatif, unggul dalam segi intelektualnya dan mampu mengawal perkaderan dengan baik sesuai pedoman yang telah ditetapkan. 

Penyelenggaraan perkaderan IMM adalah menyangkut tentang perencanaan, pelaksanaan, dan tindak lanjut. Perencanaan perkaderan berupa serangkaian pra pelaksanaan perkaderan atau biasa disebut sebagai Pra-kegiatan perkaderan. Dalam setiap level kepemimpinan IMM perkaderan harus direncanakan secara menyeluruh baik jangka waktu pendek atau jangka waktu panjang. Dalam proses pelaksanaan perkaderan merupakan tahap inti dari proses perkaderan yang sudah terkonsep secara matang. Dalam pelaksanaan proses perkaderan terdapat pokok-pokok yang harus ada dalam perkaderan IMM nantinya yaitu penerapan kurikulum yang tercermin di jadwal acara yakni berupa: Pembukaan, pelaksanaan kurikulum, pengenalan awal, pengarahan umum dan dialog, penerapan kurikulum, pengelolaan kelas, pengembangan peserta, pelaksanaan tugas dan wewenang Instruktur, pengembangan kegiatan, keaktifan dan partisipasi peserta, evaluasi akhir, dan penutup. Semua proses dalam perkaderan IMM tersebut harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh tim instruktur yang mengelola perkaderan tersebut.

Ketika proses perkaderan telah usai, maka perlunya melaksanakan tindak lanjut (follow up) yang merupakan serangkaian acara kegiatan yang dilaksanakan sebagai undakan pasca perkaderan ditingkat Darul Arqam Dasar dengan tujuan menciptakan situasi kondisi yang mengikat peserta dan mendukung optimalisasi tujuan dari perkaderan tersebut. Tindak lanjut dari penyelenggaraan perkaderan dapat berupa: laporan penyelenggaraan secara menyeluruh, pelulusan peserta kegiatan perkaderan dan penyerahan syahadah, pemantauan kader pasca mengikuti perkaderan, aktivitas dan prestasi, pendataan ekstrainer dan potensinya, serta pengembangan kegiatan.
Target perkaderan utama adalah terinternalisasikan nilai-nilai perjuangan visi dan misi IMM dan sekaligus terciptanya kader pimpinan yang memiliki kompetensi dan wawasan yang sesuai dengan level/tingkatan kepemimpinan masing-masing. Hal tersebut merupakan sasaran dan target perkaderan IMM, setelah kader IMM mengetahui sasaran dan target diharapkan bagi kader IMM mampu untuk melakukan upaya-upaya kreatif untuk mengelolanya dengan baik. 

Dalam essay ini akan membahas secara rinci tentang proses perkaderan IMM yaitu perkaderan utama Darul Arqam Dasar (DAD) yang telah dilaksanakan oleh PK IMM STITM Paciran Lamongan, yang lebih di spesifikan pada pola penyelenggaraan sistem observasi, monitoring, dan evaluasinya dengan strategi pendampingan yang menggunakan platform berbasis digital dengan metode seperti pendataan, perencanaan, pendampingan, dan follow up.

Darul Arqam Dasar (DAD) merupakan perkaderan utama tingkat dasar atau tingkat pertama dari empat tingkat perkaderan yang secara praktis menjadi prasyarat calon pimpinan IMM di level komisariat. Secara umum, tujuan terselenggaranya DAD yaitu membentuk karakter dan kepribadian serta mencetak generasi kader IMM yang unggul dan berkualitas, sehingga kualifikasi kader IMM dapat mempunyai mutu anggota hingga mencapai kualifikasi kader IMM yang mempunyai wawasan tingkat komisariat dan cabang. Serta dapat menginternalisasikan dasar-dasar Islam dan meletakkan dasar pemahaman intelektualitasnya sebagai bentuk gerakan cendekiawan berpribadi dengan ilmu amaliyah dan amal ilmiah.
 Melalui internalisasi trilogi IMM, dapat menumbuhkan wacana intelektual dan membentuk kader-kader yang siap menjadi pemimpin dan pengurus dalam tingkat pimpinan komisariat serta dapat mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam trilogi IMM.

Oleh sebab itu, penting bagi para instruktur untuk menghadirkan pola penyelenggaraan sistem observasi, monitoring, dan evaluasi sebelum atau sesudah pelaksanaan kegiatan DAD (Darul Arqam Dasar) ini dengan sebaik-baiknya dalam rangka mewujudkan cita-cita tersebut.

Pada kegiatan perkaderan terdapat observasi, evaluasi dan monitoring. Tahap pertama observasi dalam kegiatan Darul Arqam Dasar (DAD) dilakukan untuk mencari dan mengetahui segala aspek dalam penyelenggaraan, yang menyangkut tentang tujuan dan tema, kepesertaan, dan mengumpulkan data dalam proses pelaksanaan perkaderan berlangsung. Hal tersebut dilakukan oleh tim instruktur seluruhnya, dikhususkan dan dimaksimalkan oleh observer yang bertugas mengevaluasi perkembangan peserta secara personal dan kolektif yang menunjukkan pelatihan sesuai dengan targetnya. Selanjutnya yang menjadi tahap observasi adalah peserta sebagai bagian aspek yang penting untuk melakukan observasi. Hal tersebut dilakukan dengan cara menganalisis DRH (Daftar Riwayat Hidup), hasil essay peserta, hasil screening dan free-test. Hal ini berfungsi untuk memberikan panduan bagi tim instruktur dalam melaksanakan proses perkaderan selama didalam forum maupun diluar forum. Kedua, monitoring Darul Arqam Dasar (DAD) yang merupakan proses pemantauan yang dilakukan terhadap seluruh aspek yaitu memantau sikap dan perilaku peserta, alur, materi, target peserta, target materi dan kompetensi narasumber selama kegiatan perkaderan berlangsung. Monitoring dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan dalam proses pelaksanaan perkaderan, apakah sesuai dengan apa yang sudah direncanakan sebelumnya atau tidak, apakah ada kendala dan hambatan yang ditemui selama proses perkaderan berlangsung, dan bagaimana upaya untuk mengatasi hambatan dan kendala tersebut. Ketiga, evaluasi Darul Arqam Dasar (DAD) yang merupakan proses mengukur keberhasilan perkaderan sebagai intropeksi dari tahap awal perencanaan pra, proses, pelaksanaan sampai tahap pasca dari kegiatan perkaderan tersebut.

Dari ketiga tahapan tersebut tim instruktur harus melakukan tugasnya dalam mengobservasi, memonitoring serta mengevaluasi proses perkaderannya berdasarkan data-data ilmiah yang ada baik berasal dari hasil observasi, monitoring, maupun sumber-sumber lainnya secara ilmiah dan relevan. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan instrument yang disiapkan dan dilakukan dengan metode analis serta ditindaklanjuti dengan laporan dan tindak lanjut dari perkaderan yang telah dilaksanakan ditempat asal. Hal inilah yang akan menentukan agenda program kedepannya nanti setelah pasca kegiatan perkaderan tersebut. 

Pada proses pelaksanaan perkaderan Darul Arqam Dasar (DAD) yang dilaksanakan oleh PK IMM Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah (STITM) Paciran, Kabupaten Lamongan pada tanggal 27 - 29 Juni 2022 yang bertempatan di MA 02 Muhammadiyah Banyutengah, kecamatan panceng, Kabupaten Gresik ini baru saja melaksanakan perkaderan tingkat pertama yang ke-VIII yakni Darul Arqam Dasar (DAD). Pada kegiatan tersebut ada sekitar 25 peserta yang mengikuti perkaderan tersebut dari awal sampai selesai. Pada kegiatan ini memiliki tema yakni  "Implementasi Trilogi Ikatan Guna Penguatan Kemandirian Kader Yang Berakhlak Mulia" . Kegiatan ini merupakan program kerja dari bidang perkaderan PK IMM STITM Paciran Lamongan yang berlandaskan dengan SPI (Sistem Perkaderan Ikatan), Al-Qur'an dan Hadist dan AD/ART IMM.

Pada kegiatan perkaderan tersebut mencakup 8 materi yang disampaikan dalam proses perkaderan tersebut. Adapun uraian materi pada kegiatan Darul Arqam Dasar (DAD) tersebut diantaranya, keislaman, ke-muhammadiyahan, ke-IMM-an, Managemen Organisasi, Manajemen Diri, ANSOS (Analisis Sosial), GERMA (Gerakan Mahasiswa), Managemen Aksi. Dari kedelapan materi tersebut, pada kegiatan ini yang paling ditekankan adalah materi tentang Managemen Aksi karena pada materi ini para peserta tidak hanya diajarkan tentang materi Managemen Aksi saja akan tetapi peserta DAD juga diberikan tugas atau studi kasus terkait materi yang sudah diberikan dan dipraktekkan secara langsung di lapangan. Dengan begitu kader IMM yang telah selesai mengikuti perkaderan tingkat dasar ini nantinya dapat mengimplementasikan nilai trilogi IMM secara signifikan. Adapun jumlah instruktur yang bertugas dalam kegiatan Darul Arqam Dasar yang dilaksanakan oleh PK IMM STITM Paciran Lamongan tersebut berjumlah 7 orang. Diantaranya terdiri dari Master of Training, Vic Master of Training, Imam of Training, dan Tim Observer.

Setelah proses pelaksanaan kegiatan perkaderan tersebut selesai, tim instruktur yang bertugas di acara Darul Arqam Dasar (DAD) tersebut mencoba melakukan internalisasi nilai-nilai semangat dalam berorganisasi di IMM khususnya bagi mereka yang telah tuntas dalam mengikuti perkaderan ditingkat komisariat. Tim instruktur yang bertugas sebagai observer telah melakukan berbagai survey yang ada untuk memonitor kader IMM yang telah selesai mengikuti kegiatan tersebut dengan metode pendampingan khusus yakni secara personal. Dalam perkembangannya saat ini perlu melakukan tindakan khusus untuk memantau pergerakan dan perkembangan mereka setelah mengikuti DAD pada saat itu. 

Oleh karena itu,  dalam melaksanakan sistem observasi, monitoring dan evaluasi pada pasca kegiatan Darul Arqam Dasar (DAD) PK IMM STITM Paciran Lamongan membutuhkan media khusus untuk melaksanakan ketiga tahapan tersebut yang ditujukan kepada alumni DAD PK IMM STITM Paciran Lamongan ini.  Dengan hal itu, tim instruktur yang bertugas sebagai observer dalam kegiatan tersebut menyarankan untuk membuat platform berupa google form yang disediakan untuk para alumni DAD tersebut untuk mengisi setiap pertanyaan yang dituliskan dalam platform tersebut. Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat pada google form yang diberikan kepada para kader adalah untuk memantau sejauh mana perkembangan mereka setelah mengikuti perkaderan Darul Arqam Dasar (DAD) ini sampai ke tahap follow up. Dengan melakukan survey dan juga pemantauan secara digital menggunakan google form ini bertujuan untuk memudahkan tim instruktur dalam mengumpulkan berbagai data yang dibutuhkan setelah pasca kegiatan perkaderan DAD sampai ke tahap follow up atau tindak lanjut dari perkaderan tersebut. Dan tim instruktur juga dapat mengetahui apakah perkaderan tersebut berjalan sesuai dengan rencana dari sebelum proses pelaksanaan sampai tahap akhir yaitu follow up. Hal ini penting, karena memantau sistem perkaderan yang telah dilaksanakan nantinya dapat digunakan sebagai gambaran atau contoh untuk melakukan perkaderan selanjutnya ditingkat komisariat dengan para pimpinan baik tingkat komisariat atau cabang dan juga tim instruktur yang bertugas.

Dari semua proses penelitian yang telah kami lakukan bersama dengan tim instruktur yang bertugas khususnya tim observer dan juga MOT (Master of Training) pada kegiatan Darul Arqam Dasar tersebut menghasilkan jawaban bahwasanya kegiatan perkaderan DAD PK IMM STITM Paciran Lamongan telah berhasil membuat sistem perkaderan Darul Arqam Dasar ini berlangsung dengan sangat baik dari sesi kegiatan awal sampai ke tahap follow up. Hal itu bisa dibuktikan dengan hasil jawaban yang telah diberikan kepada para alumni peserta Darul Arqam Dasar ini. Dimana mayoritas hampir ada 90% dari seluruh alumni peserta DAD dapat memahami serta menyerap beberapa materi yang telah diberikan kepada para peserta DAD. Dari adanya kegiatan Darul Arqam Dasar ini dapat menciptakan kegiatan Follow up atau tindak lanjut dari proses selesainya kegiatan DAD tersebut. Bentuk dari kegiatan follow up perkaderan DAD ini adalah kegiatan kajian keagamaan yang telah dilaksanakan oleh alumni peserta DAD di salah satu masjid daerah Paciran, Kabupaten Lamongan.

Semoga dengan diselenggarakannya kegiatan perkaderan DAD yang telah dilaksanakan oleh PK IMM STITM Paciran Lamongan ini nantinya dapat melahirkan kader-kader IMM yang mampu mengimplementasikan nilai-nilai dalam ikatan dan dapat menerapkannya ke dalam kehidupan berorganisasi atapun di dalam masyarakat luas. Serta mampu meneruskan sebuah amanah persyarikatan di dalam organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dengan menjadikan organisasi IMM ini bukan hanya sebagai organisasi mahasiswa saja melainkan sebagai organisasi perkaderan yang mampu menjadi tonggak perjuangan IMM dalam menjalankan dakwah Islam melalui gerakan-gerakan religiusitas, intelektualitas, dan humanitas. Fastabiqul Khoirot.


Oleh : Septi Sartika (Instruktur PC IMM Nganjuk)

Posting Komentar

0 Komentar