Meneropong Harapan Politik Indonesia

Menjaga iklim demokrasi agar tetap sehat dan bersih tak semudah membalik telapak tangan. Perlu perjuangan sesama anak bangsa agar demokrasi di Indonesia berjalan on the track. Perjalanan demokrasi berjalan fluktuatif, up and down, maju mundur, pasang surut, dan penuh dinamika. Demokrasi sejatinya segaris dan senafas dengan kebebasan. Kebebasan berserikat, menyampaikan pendapat, mengkritik siapapun, dimanapun, dan kapanpun, termasuk dalam mengkritik penguasa. Demokrasi juga meniscayakan perbedaan pendapat. Berbeda pendapat dalam alam demokrasi merupakan kewajaran.

Begitupun menjadikan Indonesia hebat dan bermartabat. Butuh kemauan seluruh anak bangsa untuk meraihnya. Perlu kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas agar dapat membangun bangsa besar dan hebat. Hebat atau tidaknya republik ini bergantung pada bagaimana bangsa ini ditata dan dikelola. Bangsa besar dan hebat adalah bangsa yang menghargai kerja keras, kejujuran, kepedulian, kasih sayang, cinta, kekompakan, kebersamaan, persatuan, dan kesatuan.

Untuk menjadi Indonesia emas tidaklah mudah. Namun juga tidak mustahil. Karena kita pasti bisa. “Nothing is impossible in this world”, begitulah kalimat bijak yang sering menjadi referensi bagi orang yang selalu optimis. Begitu juga tidak ada yang tidak mungkin, untuk menjadikan Indonesia emas. Indonesia emas adalah keniscayaan. Indonesia emas adalah keinginan, harapan, dan cita-cita. Indonesia emas adalah masa depan yang penuh keceriaan dan kebahagiaan. Dan Indonesia emas adalah keyakinan kita bersama.

Dengan jumlah penduduk yang menyentuh 276 juta jiwa, terhampar dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Memiliki gugusan pulau yang indah hingga 17.000 pulau. Dengan kekayaan ragam bahasa daerah yang berbeda yang mencapai 652 bahasa, dengan jumlah tarian sebanyak 1.592 yang memukau dan berjuta warna. Dengan adat istiadat yang menjunjung luhur nilai-nilai kesopanan dan kesantunan, dengan berbeda-beda keyakinan, ditambah dengan kekayaan alam yang melimpah ruah, dan dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Maka, Indonesia sangat mungkin untuk menjadi negara hebat dan disegani di dunia.

Franklin D. Roosevelt presiden Amerika Serikat dalam pidato pelantikannya pada 4 Maret 1933 mengatakan, "Bangsa yang tidak punya visi akan musnah." Pidato pada pelantikannya tersebut menjadi salah satu pidato yang mengubah wajah dunia. Begitu juga dengan Indonesia, jika tidak memiliki visi, maka akan musnah. Musnah diterjang oleh perubahan zaman yang tak mengenal kasta, suku, ras, budaya, agama, dan negara.

Visi dapat menjadi petunjuk arah bagi kapal Indonesia raya dalam mencapai tujuan. Kompas bagi cita-cita bangsa kedepan. Jalan bagi terciptanya keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran. Visi akan mengarahkan bangsa yang kerdil menjadi bangsa yang stabil. Dari bangsa yang lemah menjadi kuat. Dari bangsa yang gelap menjadi terang. Dari bangsa yang hancur menjadi makmur. Dari bangsa yang gagal menjadi bangsa besar. Visi, ya, kuncinya visi. Tentu visi yang memiliki misi, dan juga dijabarkan dengan program-program pembangunan bangsa yang terukur dan implementatif.

Visi dan misi yang memang akan direalisasi, bukan sekedar basa-basi untuk meraup simpati, apalagi hanya menjadi jargon politik yang tanpa arti. Jangan hanya menjadi jargon partai politik yang hampa. Jangan juga hanya menjadi retorika sesaat kelompok tertentu. Karena kita semua sedang merindukan dan mendambakan Indonesia emas. Bukan Indonesia yang pemimpin dan rakyatnya kalah sebelum berperang. Menyerah sebelum bertanding. Terluka sebelum bertempur. Terhuyung sebelum memasang kuda-kuda. Jatuh sebelum mendaki. Benjol sebelum masuk ring tinju. Terhempas sebelum balapan. Terpelanting sebelum dibanting. Tertinggal sebelum berlari. Terlena sebelum terlaksana. Dan terbenam sebelum muncul. Indonesia hebat harus terlaksana. Apapun risikonya. Apapun kendalanya. Dan apapun yang terjadi. Kitalah semua penggerak Indonesia emas itu. 


Abdul Wahid (DPP IMM)

Posting Komentar

0 Komentar