Peran IMM Menyiapkan Pemimpin Autentik

Dalam prolog buku IMM Autentik, Amirullah mengutip perkataan Ayahanda Haidar Natsir, "Kalau ada orang yang mengatakan kurang tajdidnya Muhammadiyah, maka yang bertanggung jawab adalah IMM.” Bagi penulis kata tajdid tidak hanya berarti pemurnian, pengembangan, dan pembaharuan saja. Namun tafsir kurang tajdid jika menengok secara utuh dalam kalimat tersebut, maka harus dimaknai, "Apapun kekurangan Muhammadiyah hari ini, maka yang bertanggung jawab adalah IMM, artinya Bapak Haidar Natsir menaruh kepercayaan yang begitu besar kepada IMM untuk melahirkan kader yang berwawasan utuh, lengkap dan universal untuk menjawab tantangan zaman.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang lahir tahun 1964 lalu akan selalu menarik untuk dikaji, Karena IMM merupakan anak “intelektual” Muhammadiyah. Meski menurut Victor Tanja, dalam disertasi doktornya tentang HMI menyatakan, Bahwa secara ideologis IMM dan HMI mempunyai wawasan yang sama, barangkali hal tersebut yang membuat ia heran mengapa Muhammadiyah memandang perlu untuk membentuk organisasi Mahasiswa sendiri”

Farid Fathoni menjawab disertasi tersebut dengan membuat sebuah buku yang berjudul, Kelahiran yang dipersoalkan, Menurut Farid Fathoni, bahwa berdirinya IMM mempunyai beberapa faktor, maksud, dan tujuan ideologis tersendiri yakni sebagai : (1) Situasi pemerintahan nasional yang otoriter dan umat Islam mendapat ancaman dari pihak Komunis. (2) Perselisihan dalam internal umat Islam. (3) Tersekat-sekatnya kehidupan kampus yang hanya berorientasi pada politik praktis semata. (4) Melemahnya kehidupan beragama. (5) Kuatnya pengaruh sekuler dalam kehidupan kampus hingga minimnya pembinaan agama. (6) Membekasnya imperialisme penjajahan hingga selalu terjadi kemiskinan dan kebodohan. (7) Praktek kesyirikan dan Kristenisasi menjamur. (8) Kehidupan perekonomian masyarakat makin memburuk.

Maka dari itu, seorang kader IMM harus senantiasa berusaha mewujudkan cita-cita mulia tersebut dan mulai bergerak menjadi pelopor bagi para mahasiswa untuk berpikir dan selalu menjadi pribadi yang amar ma’ruf nahi munkar. Baik itu dalam kepribadiannya sendiri maupun untuk kepentingan persyarikatan dan umat secara keseluruhan. IMM merupakan wajah akademisi Muhammadiyah yang akan membuktikan bahwa dirinya layak menjadi seorang pemimpin yang Autentik.

IMM merupakan organisasi yang menjadi simbol peradaban bangsa saat ini. Dimana jejak dan kepribadiannya masih terbilang suci dari roda-roda pemangku kebijakan saat ini. Serta jauh dari gandengan elite-elite pemerintah, yang menjadikan alur kebijakan IMM selalu lurus sesuai dengan peradaban. Hal itu sebagaimana saat pertama kali dilahirkan oleh Djazman Al-Kindi beserta kawan-kawannya. Bahkan sejauh ini peradaban IMM masih dipandang sebagai organisasi yang kuat. Dan pantas digandeng menjadi organisasi mahasiswa yang memiliki tingkat keilmuan yang mumpuni. Karena masih istiqamah dengan kajian, diskusi bahkan melahirkan etos-etos pemikir yang mempunyai intelektual tinggi dari hasil kajian serta diskusinya tersebut.

Kader-kader IMM harus melepaskan diri dari “romantisme” berlebihan terhadap simbol-simbol IMM, tapi nihil penjiwaan. Letupan dan teriakkan “IMM Jaya, Jaya IMM”, hanya “tong kosong nyaring bunyinya” Jika tidak diiringi dengan semangat pembuktian terhadap nilai-nilai ke-IMM-an dalam dimensi-dimensi keseluruhannya. IMM akan jaya jika kader-kadernya menjadi kader yang jaya, kader yang menjiwai setiap simbol dan prinsip-prinsip IMM. Dengan perkataan lain, tidak perlu pusing dan harus sakit-sakitan untuk berteriak IMM Jaya, yakin dan pasti, IMM akan jaya dan dirasakan kehadirannya di tengah-tengah derita umat dan bangsa jika kader-kadernya menjiwai, membuktikan identitas, dan mengaktualisasikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip fundamental IMM dan kemudian menjayakan dirinya. Dengan begitu, IMM akan bermartabat, berjaya, dan bermanfaat untuk persyarikatan, umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Lalu, untuk melahirkan Pemimpin Autentik, Amirullah dalam buku IMM Autentik mengatakan, "hendaknya seorang kader harus menguasai dua hal fundamental yang menjadi core dari esensi dan eksistensi IMM (kader IMM). Pertama, IMM sebagai gerakan intelektual, dan Kedua, IMM sebagai gerakan akhlak. Dua hal ini sesungguhnya mewakili keseluruhan konsep-konsep IMM yang ada. Baik itu Enam Penegasan, Tujuan IMM, Tri Kompetensi Dasar, Nilai Dasar Ikatan, Profil Kader, dan lain-lainnya."

Pertama, IMM sebagai gerakan intelektual. Setidaknya sebagai gerakan intelektual, kader IMM harus menjunjung tinggi empat hal penting yang mengitarinya, yakni menjunjung tinggi budaya membaca (read and understand), menjunjung tinggi budaya berdiskusi (discuss), menjunjung tinggi tradisi menulis (write), dan menyemarakkan budaya meneliti (search and research). Empat hal ini merupakan nadi atau nyawanya kader IMM sebagai gerakan intelektual. Dengan berbagai ekspresi, varian, dan model gerakanya, empat pilar ini harus dijunjung tinggi oleh kader IMM di masing-masing level pimpinan.

Jika empat pilar di atas melemah, tidak dipedulikan, terjadi turbulensi, apalagi nyaris hilang di ruang aktivitas dan dinamika berorganisasi kader IMM. Maka, mudah ditebak dan bisa dipastikan, IMM akan menjadi organisasi pinggiran, organisasi yang akhirnya berubah menjadi tempat keluh-kesah, organisasi la yamuutu wala yahya, organisasi yang dikutuk sejarah karena gagal memenuhi janjinya, gagal membuktikan kepada umat yang tidak sabar menuntut bukti. Singkatnya, jika IMM sebagai gerakan intelektual tidak sema-rakkan, digalakkan, dan dimasifkan oleh kader-kadernya, maka siap-siap kita temukan IMM terkapar tidak berdaya dihukum zaman.

Kedua, IMM sebagai gerakan akhlak. Sebagaimana cita-cita awalnya, IMM lahir di rahim Muhammadiyah adalah untuk menjalankan visi perbaikan akhlak di kalangan masyarakat kampus (mahasiswa). Semangat historisitas ini tidak boleh bergeser apalagi berubah, bahwa IMM merupakan kekuatan moral bangsa, IMM merupakan pundi-pundi integritas bangsa, IMM merupakan laboratorium pendidikan karakter bagi mahasiswa di berbagai kampus di pelosok Bumi Pertiwi ini. Ini pula yang ditegaskan dalam tujuan IMM yang selama rentang waktu 52 tahun tidak berubah dan tidak akan pernah berubah substansinya bahwa IMM lahir dan ada untuk mengusahakan terbentuknya akademisi (intelektual) Islam yang berakhlak mulia.

Ini yang tidak boleh dilupakan dan harus dijiwai oleh setiap kader-kader IMM bahwa esensi dan eksistensi IMM ada di perut Bumi Pertiwi ini dalam rangka mengemban visi profetik (perbaikan akhlak), khususnya di kalangan mahasiswa. Oleh karena itu, penguatan nilai-nilai moralitas, etik, dan akhlak di kalangan kader ikatan harus terus dikuatkan. Tentunya dengan penjiwaan terhadap ajaran Islam sebagaimana paham keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah atau pedoman akhlak warga Muhammadiyah.

Penjiwaan nilai-nilai dan akhlak Islam perlu saling menguatkan, saling mendukung, saling mengingatkan, saling menasihati, saling menegur dalam cinta dan kasih sayang, saling mengajak pada kebaikan dengan penuh cinta dan kepedulian, dan saling mengerti tanpa ada paksaan apalagi hinaan dan diskriminasi, karena pada hakikat-nya kebaikan (akhlak) itu perlu proses yang tulus. Di sinilah hakikat kekeluargaan, hakikat kita berorganisasi, dan hakikat kita ber-IMM. Kita ber-IMM adalah jembatan untuk sebuah proses pematangan diri dan proses belajar di setiap level masing-masing kepemimpinan untuk kelak dapat menjadi seorang pemimpin yang autentik.


Naufal Abdul Afif (Kabid Hikmah Politik dan Kebijakan Publik PC IMM Kendal)

Posting Komentar

0 Komentar