Internalisasi Nilai Ikatan Menjawab Tantangan di Era Disrupsi



Masyarakat dunia sedang menghadapi perubahan teknologi yang semakin cepat. Ditandai dengan banyak lahirnya inovasi dalam teknologi yang selalu ter-update dengan sangat cepat, serta munculnya kebiasaan baru yang berbeda dengan kehidupan secara umum sebelumnya. Salah satu dampaknya terhadap jalan berfikir manusia dalam memahami nilai-nilai keislaman harus tetap berjalan sesuai koridor syariat. Secara garis besar kader-kader IMM harus tetap beradaptasi dengan tetap mengimplementasikan diri sesuai nilai ikatan.

Nilai dasar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, tertuang dalam Mutktamar VII IMM tahun 1992 di Purwokerto, Jawa Tengah. Hal yang mendasar adalah IMM bergerak pada tiga bidang: keagamaa, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan. Banyak organisasi lain yang juga bergerak dalam ranah tersebut. Dalam bidang kemasyaraktan Muhammadiyah adalah salah satu organisasi kemasyarakatan yang selalu berusaha hadir untuk terus membina dan melayani masyarakat. Begitu juga dalam bidang kemahasiswaan banyak organisasi lain, seperti HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia) dan lain sebagainya. Semua yang disebutkan memiliki corak yang hambir serupa dengan IMM.

Hal yang membedakan antara IMM dengan organisasi serupa adalah dalam bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan dan dalam bidang Hikmah. Corak ini yang harus tetap dijaga oleh setiap kader yang ada untuk tetap membuat nilai ikatan semakin kuat karena pada dasarnya nilai yang kuat terbentuk dari identitas yang kuat. Beberapa hal yang menjadi output corak yang khas terhadap kader IMM adalah kebiasaan dalam membaca, berdiskusi, dan menulis yang tinggi bagi setiap kader IMM. Walaupun banyak sekali pergeseran yang ada dalam era sekarang, namun membaca, berdiskusi dan menulis adalah tiga kesatuan yang membentuk sikap intelektual, humanis, dan religius.

Percepatan yang ada mendorong kita untuk menghidupkan kembali sebuah tradisi Intelektual untuk dapat mengungkapkan argumen narasi melalui Artikel-artikel dan tulisan. Wadah itu menjadi penting untuk dihidupkan kembali dengan nama sebagaimana sebelumnya yaitu IMMPos. Wadah bagi setiap kader IMM dalam berpendapat dan beropini, merefleksikan kedaan dari bacaan dan lingkungan sekitar, dan menulis. IMMPos Kembali dibentuk untuk tetap dapat melestarikan Nilai ikatan yang harus dilestarikan dan mengajak semua kader IMM untuk dapat berkontribusi Bersama ikatan. Permulaan yang kecil dan perubahan harus tetap dibentuk dengan tetap memperhatikan nilai-nilai dalam ikatan.

IMMPos menjadi pilihan bersama untuk dapat menuangkan ide gagasan oleh para kader komisariat Universitas Ibn Khaldun Bogor. IMMPost dapat menjadi wadah bagi setiap kader untuk berkontribusi dalam pergerakan IMM diseluruh lapisan tanah air Indonesia. Dengan tekat untuk tetap terus menjalin hubungan yang baik dengan kader-kader lain dan selalu memberikan manfaat bagi lingkungan dengan kontribusi yang dihadirkan IMMPos tersebut, harapannya seluruh kader dapat bahu membahu mengembangkan perjuangan ini yang mungkin menjadi nilai yang bermanfaat di dunia maupun akhirat. 

Semoga keberkahan dan bimbingan Allah SWT selalu hadir bagi para pengemban amanat dalam pergerakan ini, dan ikatan ini dapat terus menebar manfaat. Mengutip sedikit kata Mutiara dalam buku pedoman kader, “Bukan kader IMM sejati kalau setiap hari hanya membaca di bawah lima puluh halaman, bukan kader IMM sejati kalua tidak suka berdiskusi dan menulis, dan bukan kader IMM sejati kalau tidak suka filsafat”. Tidak harus IMMPos namun tetap harus berkarya dan menebar manfaat kepada sesama manusia. Fastabiqul Khoirot


Salam : Aziz Setio Purnomo
(Bidang Medkom PK IMM UIKA)

Posting Komentar

0 Komentar