Ketika Buya Hamka Dituduh Radikal




Pada hari Senin tanggal 12 Ramadhan 1385, bertepatan dengan 27 Januari 1964, Kira-kira pukul 11 siang, Buya Hamka dijemput, ditangkap dan ditahan, lalu dibawa ke Sukabumi. Beliau kemudian menjalani pemeriksaan tanpa henti. Siang-malam, petang-pagi. Berhenti hanya untuk makan dan shalat. Selama 15 hari, 15 malam dicerca 1001 pertanyaan. 

Pokoknya Hamka harus bersalah. Titik. Meskipun harus mengada-ada dan membuat-buat bukti palsu. Kalau tidak mau mengaku salah, jangan harap bisa tidur. Tidur pun akan diganggu. Tekanan dan intimidasi terus dilakukan, fisik, psikis dan jiwa, di tangan mereka ada pistol siap diletuskan. 

"Saudara pengkhianat, menjual negara kepada Malaysia." Tuduhan yang menyayat-nyayat hati Hamka. Gemetar tubuhnya menahan marah, gelap matanya mendengarkan tuduhan keji yang tidak pernah dia dengar seumur hidup. Ingin rasanya Hamka melompat dan menerkam tubuh sipir penjara tersebut. Syukur, dia mampu mengendalikan emosinya. 

Dengan menangis tersedu, keluar ratapan pilu, "Janganlah saya disiksa seperti itu. Bikinkan sajalah satu pengakuan bagaimana baiknya, akan saya tandatangani. Tetapi kata-kata demikian janganlah saudara ulangi." 

"Memang saudara pengkhianat!" tuduhnya lagi sambil membanting pintu dan pergi. 

Sempat terlintas dalam benaknya untuk mengakhiri hidup. Membayangkan ada pisau atau silet yang tersisa di sakunya untuk digoreskan ke urat nadi. Hampir satu jam terjadi perang hebat di dadanya. Antara tipu daya iblis dan kekuatan iman yang sudah puluhan tahun tersemat. Hamka bahkan sudah membuat wasiat buat keluarganya. "Tetapi alhamdulillah: Iman saya menang, saya menang," tulisan Hamka. 
Kisah ini, Hamka tuliskan dalam buku, "Tasawuf Modern" pada pengantar untuk cetakan ke-XII. Setelah pemeriksaan yang kejam dan serem selesai, mulailah dilakukan pemenjaraan. Saat jatuh sakit dan dirawat di RS Persahabatan di Rawamangun Jakarta, beliau meminta kepada anaknya yang sering membesuknya, agar dibawakan buku "Tasawuf Modern". 

"Saya baca dia kembali di samping membaca Al-Quran." 

Sampai suatu hari seorang teman datang dan mendapatinya membaca buku tersebut lalu menggodanya, "Eh, Pak Hamka sedang membaca karangan Pak Hamka!" 

"Memang," jawabannya, "Hamka sedang memberikan nasihat kepada dirinya sendiri, sesudah selalu memberikan nasihat kepada orang lain." 

Di balik jeruji besi, Buya Hamka mampu melahirkan masterpiece tafsir Al-Azhar yang Karya tersebut dihargai dengan gelar profesor dari Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. 

Banyak kisah para pejuang, ulama yang membela keyakinannya meskipun harus berhadapan dengan penguasa dan jeruji besi. Namun tak akan gentar hati ini untuk menyerah. Tafsir Fi Zhilalil Qur'an dikerjakan Sayyid Quthb di balik penjara dengan berbagai siksaan di dalamnya. Konon tafsirnya ini disebut sebagai, "The most remarkable works of prison literature ever produced". Fisik bisa saja terpenjara tapi tidak dengan jiwanya. Merdeka. 

Pangeran Diponegoro adalah seorang radikalis, fundamentalis dan teroris, di mata penjajah. Namun, dia adalah seorang pejuang di mata umat Islam dan bangsa. Tinggal kita berdiri di sudut mana. Tabik. 


Oleh : Ustadz Syahrul M.Si
(Alumni PUTM, Mahasiswa S3 UIKA Bogor)

Posting Komentar

0 Komentar